Saat ini hatiku kian gundah, ia yang kucinta setengah mati kini meninggalkan aku. aku sedih sekali. Hatiku hancur, ia seperti tidak peduli. Sakit sekali hatiku kalau mengingat tentang ia, tapi bagaimana aku bisa lupa dengan ia yang sudah memaku tanda cintanya di hatiku?
Ya Mahbuby, apa kamu juga hancur seperti aku? Seperti yang kamu katakan padaku?
Ya Mahbuby, aku ini sakit sekali karena kamu pergi meninggalkan aku, aku seperti menelan bulat-bulat duri tajam yang melukai jantung hatiku, aahh, sakit sekali. Kulakukan segala hal yang bisa kulakukan agar aku bisa ,melupakan sakit hatiku ini. Ya Mahbuby, kamu tahu tidak, hatiku ini hancur tak berbentuk lagi. Seperti taman bunga yang disapu badai. Bunga-bungaku mati tak tersisa, ahhhh menyedihkan sekali.
Kini aku hanya punya hamparan tanah kosong dalam taman hatiku, tak ada bunga yang tumbuh. Sepi sekali.
“Kamu, bisa-bisanya kamu bilang masih mencintaiku, bisa-bisanya kamu bilang aku tak tergantikan di hatimu, tapi kamu kini mendekati wanita lain, sementara aku di sini mengeluh sakit dalam hatiku, kamu tau bagaimana rasanya? Sakiiit sekali. Seolah ada paku yang masuk dari kepalaku, menusuk lewat tenggorokku, menggores paru-paruku dan menancap dalam jantung hatiku sehingga mengeluarkan darah berwarna putiih bening yang keluar dari mataku, periiiih sekali rasanya. Akh, kamu tidak akan tau rasa sakitnya, karena kamu sudah ada yang menemani sekarang.”
